Tantrum adalah ledakan emosi yang ditunjukkan anak dengan menangis histeris, berteriak, menendang, atau melempar barang. Perilaku ini umum terjadi pada anak usia 1 hingga 4 tahun, dan merupakan bagian dari perkembangan mereka. Jika anak tantrum, baiknya parents jangan membentak, memarahi, mengancam, ataupun berbicara dengan nada tinggi. Apalagi bila diikuti ekspresi kesal dan marah.
Dikutip dari Buku Anti Stres Hadapi Tantrum pada Anak karya Dian Farida Ismyama (2021), Tantrum pada anak tentu terasa menjengkelkan dan terkadang membuat orang tua stres. Tanpa sebab yang jelas, anak tiba-tiba menangis, berteriak, membentak, mengamuk, bahkan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa tantrum pada anak dapat diatasi dengan cara mengalihkan perhatiannya. Namun begitu, Sarah Ockwell-Smith, pakar Gentle Parenting, mengatakan memang banyak orang tua yang memilih mengalihkan perhatian anak sebagai metode menghadapi perilaku anak yang sulit. Namun cara tersebut sama saja dengan tak menghargai anak. Menurutnya, cara pengalihan perhatian selama parents mengenali dan menanggapi perasaan marah dan kekecewaan yang mungkin anak tunjukkan itu bisa digunakan.
Ketika anak tantrum sebenarnya orang tua perlu membangun komunikasi dan mengajarkan tentang emosi, serta cara mengendalikannya. Kemudian saat anak sedang berjuang menghadapi perasaannya, dorong anak untuk menyebutkan jenis perasaan apa yang ia alami, apa penyebabnya, serta bagaimana cara agar perasaan tersebut dapat mereda.
Dikatakan oleh psikolog klinis, Linda Rubinowitz , tantrum pada anak bukanlah penyakit yang perlu diobati atau juga bukan berasal dari pola asuh yang buruk. Tantrum dapat membantu anak-anak belajar menghadapi emosi negatif mereka. Parents tak perlu berpikir terlalu jauh karena ini merupakan fase dan bagian dari tahap perkembangan penting yang pasti dialami oleh anak.
Baca juga Box Mainan Anak untuk Edukasi? KUBO Kids Solusinya!
Mengapa anak tantrum?
Anak tantrum karena mereka belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhan mereka dengan kata-kata. Ketika mereka frustrasi, marah, atau lelah, mereka belum tahu cara lain untuk mengkomunikasikannya selain dengan tantrum.
Contoh Situasi yang Memicu Tantrum:
- Keinginan tidak terpenuhi: Anak menginginkan mainan di toko, namun orang tua tidak membelinya.
- Merasa lapar, lelah, atau tidak nyaman: Anak merasa lapar dan ingin makan, tetapi belum waktunya makan.
- Merasa bosan atau tidak mendapat perhatian: Anak merasa bosan di rumah dan ingin bermain di luar, tetapi orang tua sedang sibuk.
- Merasa frustrasi karena tidak bisa melakukan sesuatu: Anak ingin membantu orang tua membersihkan rumah, tetapi belum cukup besar untuk melakukannya.
Apakah tantrum selalu normal?
Meskipun tantrum adalah hal yang normal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Frekuensi: Jika anak tantrum lebih sering dari biasanya, mungkin ada yang salah.
- Contoh: Anak tantrum hampir setiap hari, bahkan untuk hal-hal kecil.
- Durasi: Tantrum yang berlangsung lebih dari 20 menit mungkin perlu dikhawatirkan.
- Contoh: Anak tantrum selama 30 menit atau lebih, dan tidak bisa ditenangkan dengan mudah.
- Contoh: Anak memukul kepalanya sendiri saat tantrum, atau melempar benda ke arah orang lain.
- Usia: Jika anak masih tantrum di atas usia 4 tahun, mungkin ada masalah yang mendasarinya.
- Contoh: Anak berusia 5 tahun masih sering tantrum beberapa kali dalam seminggu.
Tips Mengatasi Anak Tantrum
Tetap Tenang dan Sabar
- Penting bagi orang tua untuk tetap tenang saat anak tantrum. Jika orang tua ikut marah, itu hanya akan memperburuk keadaan.
- Contoh: Tarik napas dalam-dalam dan hitung sampai sepuluh sebelum Anda berbicara dengan anak Anda.
- Berikan anak Anda pelukan atau sentuhan yang menenangkan.
- Contoh: Peluk anak Anda dengan erat dan katakan dengan suara yang lembut bahwa Anda mencintainya.
Berikan Pilihan kepada Anak
- Berikan anak Anda dua pilihan untuk membantu mereka merasa lebih terkendali.
- Contoh: Tanyakan kepada anak Anda apakah mereka ingin minum jus atau susu, atau ingin bermain di dalam atau di luar.
- Hindari memberi anak Anda terlalu banyak pilihan, karena dapat membuat mereka bingung dan frustrasi.
- Contoh: Hindari bertanya kepada anak Anda apa yang ingin mereka makan untuk makan malam, dan berikan beberapa pilihan yang sudah Anda siapkan.
Tetapkan Konsekuensi yang Jelas dan Konsisten
- Jika anak Anda tantrum karena ingin sesuatu, jangan berikan. Tetapkan konsekuensi yang jelas dan konsisten.
- Contoh: Jika anak Anda tantrum karena ingin membeli mainan di toko, katakan dengan tegas bahwa Anda tidak akan membelinya.
- Pastikan konsekuensi yang Anda berikan sesuai dengan usia dan tingkat keparahan tantrum anak Anda.
- Contoh: Untuk anak yang lebih kecil, konsekuensinya bisa berupa time-out singkat. Untuk anak yang lebih besar, konsekuensinya bisa berupa kehilangan hak istimewa tertentu.
Validasi Perasaan Anak

Cara berikut juga dapat diterapkan ketika semua tips di atas telah diterapkan, yakni dengan memvalidasi perasaan anak. Teknik validasi perasaan:
- Sebutkan nama atau jenis emosi anak. Contoh: “Kakak marah, ya?”
- Amati respon anak dan lanjutkan ke langkah berikutnya.
- Gunakan kalimat sederhana untuk menunjukkan empati. Contoh: “Pasti rasanya seperti ada yang meledak di dalam dada, ya kak.”
- Dengarkan penjelasan anak tanpa menghakimi atau memberi nasihat.
- Tawarkan pelukan jika anak mau.
- Gunakan pertanyaan terbuka untuk membantu anak mengekspresikan diri.
- Ajak anak berdiskusi untuk mencari solusi masalah.
Manfaat validasi perasaan:
- Membantu anak merasa aman dan nyaman.
- Meningkatkan kepercayaan diri anak.
- Membantu anak belajar menyelesaikan masalah dengan cara yang positif.
Nah parents, ternyata bisa loh membuat suasana bermain anak di rumah terhindar dari adanya tantrum dengan cara mengorganisir barang secara rutin. mengorganisir barang dapat membantu untuk:
- Menciptakan lingkungan yang lebih tenang dan terstruktur: Hal ini dapat membantu mengurangi stres dan frustrasi pada anak, yang dapat memicu tantrum.
- Mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan kemandirian: Memberikan anak tugas sederhana untuk membantu mengorganisir barang dapat membantu mereka belajar tentang tanggung jawab dan kemandirian.
- Membantu anak untuk fokus dan berkonsentrasi: Mengorganisir barang dapat membantu anak untuk belajar bagaimana fokus dan berkonsentrasi pada satu tugas pada satu waktu. Hal ini dapat membantu mereka untuk mengendalikan emosinya dengan lebih baik.
Berikut beberapa tips untuk mengorganisir barang dan membantu mengatasi tantrum pada anak:
- Libatkan anak dalam proses pengorganisasian: Tanyakan kepada anak apa yang ingin mereka simpan dan apa yang ingin mereka buang. Biarkan mereka membantu Anda memilih tempat untuk meletakkan barang-barang mereka.
- Gunakan sistem penyimpanan yang mudah diakses dan dipahami anak: Gunakan rak, kotak, dan label untuk membantu anak menemukan barang-barang mereka dengan mudah.
- Buatlah rutinitas untuk mengorganisir barang: Luangkan waktu setiap hari untuk membantu anak mengorganisir barang-barang mereka. Hal ini akan membantu mereka belajar tentang konsistensi dan disiplin.
- Berikan pujian kepada anak atas usaha mereka: Ketika anak berhasil mengorganisir barang-barang mereka, berikan pujian dan penghargaan kepada mereka.
Penting untuk diingat bahwa:
- Mengorganisir barang hanyalah salah satu cara untuk membantu mengatasi tantrum pada anak.
- Orang tua juga perlu belajar bagaimana menanggapi tantrum dengan tepat dan sabar.
- Setiap anak tantrum dengan cara yang berbeda.
- Tantrum adalah fase normal dalam perkembangan anak.
Nah parents bisa nih menggunakan KUBO Kids sebagai media untuk membantu anak dalam mengorganisir barang. Kegiatan mengorganisir barang secara tidak langsung dapat meminimalisir tindakan tantrum pada anak.

Berikut beberapa alasannya:
1. Mengurangi stres dan frustrasi: Mengorganisir barang-barang dengan KUBO Kids dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih tenang dan terstruktur. Hal ini dapat membantu mengurangi stres dan frustrasi pada anak, yang dapat memicu tantrum.
2. Meningkatkan rasa tanggung jawab: Merawat barang-barang mereka sendiri dengan KUBO Kids membantu anak belajar tentang tanggung jawab. Hal ini dapat membantu mereka merasa lebih percaya diri dan mandiri, yang dapat mengurangi tantrum.
3. Meningkatkan kemampuan komunikasi: Kegiatan merapikan barang bersama KUBO Kids dapat menjadi momen bonding yang menyenangkan antara orang tua dan anak. Hal ini dapat membantu meningkatkan komunikasi dan pemahaman antara keduanya, yang dapat membantu mengatasi tantrum.
4. Mengajarkan cara mengekspresikan diri: Merapikan barang-barang dengan KUBO Kids dapat membantu anak belajar bagaimana mengekspresikan diri dengan cara yang positif. Hal ini dapat membantu mereka mengelola emosinya dengan lebih baik dan mengurangi tantrum.

Penting untuk diingat bahwa:
- Tantrum adalah fase normal dalam perkembangan anak.
- KUBO Kids hanyalah salah satu alat yang dapat membantu mengurangi tantrum.
- Orang tua perlu belajar bagaimana menangani tantrum dengan tepat dan sabar.
- Setiap anak tantrum dengan cara yang berbeda.
Baca juga Tips Menyusun Mainan Anak agar Tertata dengan Baik
Kesimpulan
Penggunaan KUBO Kids dapat membantu orang tua dan anak untuk merapikan barang-barang dengan cara yang menyenangkan dan edukatif. Hal ini dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan rasa tanggung jawab, dan meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak. Semua faktor ini dapat membantu mengurangi tantrum pada anak.
Nah, jika semua tips di atas sudah coba diterapkan dan frekuensi tantrum anak sangat parah, sampai melukai diri sendiri atau orang lain, konsultasikan masalah tersebut dengan dokter atau praktisi. Untuk parents yang mau memberikan anak KUBO Kids sebagai media untuk meminimalisir tindakan tantrum pada anak, parents bisa cek koleksi KUBO Kids yang menggemaskan di shopee, blibli, lazada, tokopedia, Zalora dan TikTok shop. Dapatkan informasi menarik tentang cara-cara mengedukasi anak di instagram resmi @KUBO_id.
